Sabtu, 21 Januari 2012

Demokratisasi Pada Masa 1959-1965 (DEMOKRASI TERPIMPIN)


I.  PENDAHULUAN 
Latar Belakang
Demokrasi Terpimpin (1959-1965) pada Masa Orde Lama adalah sebutan bagi masapemerintahanPresiden SoekarnodiIndonesia.Pada periode pemerintahan Indonesia tahun 1959-1965 kekuasaan didominasi olehPresiden, terbatasnya peranan partai politik, berkembangnya pengaruh komunis dan makinmeluasnya peranan TNI/Polri sebagai unsure sosial poltik. Dekrit Presiden 5 Juli 1959 dapatdipandang sebagai suatu usaha untuk mencari jalan keluar dari kemacetan politik denganmelalui pembentukan kepemimpinan yang kuat.Pada masa demokrasi terpimpin banyak terjadi penyelewengan terhadap Pancasila danUUD 1945 antara lain pembentukan Nasakom (Nasionalis, Agama dan Komunis), Tap.MPRS No. III/MPRS/1963 tentang Pengangkatan Soekarno sebagai Presiden Seumur Hidup,pembubaran DPR hasil pemilu oleh Presiden, pengankatan ketua DPRGR/MPRS menjadimenteri negara oleh Presiden dan sebagainya. Dalam demokrasi terpimpin, apabila tidak terjadi mufakat dalam sidang DPR, maka permasalahan itu diserahkan kepada Presidensebagai pemimpin besar revolusi untuk diputuskan sendiri (lihat Peraturan Tata TertibPeraturan Presiden No. 14 Tahun 1960 dalam hal anggota DPR tidak mencapai mufakat).Dengan  demikian,  rakyat/wakil  rakyat  yang  dududk  dalam  lembaga  legislative  tidak mempunyai  peranan  yang  penting  dalam  pelaksanaan  demokrasi  terpimpin.  Akhirnya,pemerintahan Orde Lama beserta demokrasi terpimpinnya jatuh setelah terjadinya peristiwaG-30-S/PKI 1965 dengan diikuti krisis ekonomi yang cukup parah.

KEPEMIMPINAN POLITIK 
Para pemimpin berasal dari angkatan 1928 danangkatan 1945 dengan tokoh politik Soekarno sebagaititik  dan  pusatnya.  Kepemimpinan  tokoh  politik  iniberdasar pada politik mencari Kambing hitam. Karenasifatnya kharismatik dan paternalistik, tokoh politik inidapat menengahi dan kemudian memperoleh dukungandari pihak-pihak bertikai, baik dengan sukarela maupunkarena terpaksa. Dengan dialektika, pihak yang kurangkemampuannya akan tersingkir dari gelanggang politik dan yang kuat akan merajainya.  Gimnastik politik inilebih menguntungkan PKI.
1. Diktaornya Soekarno
Setelah dikeluarkannya Dekrit Presiden 5 Juli 1959, Indonesia jatuh pada masademokrasi  terpimpin.  Dalam  demokrasi  terpimpin  Soekarno  bertindak  seperti  seorangdiktator, hampir semua kekuasaan negara baik eksekutif, legislatif dan yudikatif berada padakekuasaannya. Sutan Takdir Alisyahbana menyamakan Soekarno dengan raja-raja kuno yangmengklaim dirinya sebagai inkarnasi tuhan atau wakil tuhan di dunia.Dekrit tersebut dapat dipandang sebagai suatu usaha untuk mencari jalan keluar darikemacetan politik melalui pembentukan kepemimpinan yang kuat. Undang-Undang Dasar 1945 membuka kesempatan bagi seorang presiden untuk bertahan selama sekurang-kurangnyalima tahun. Akan tetapi ketetapan MPRS No. III/1963 yang mengangkat Ir. Soekarno sebagaipresiden seumur hidup telah membatalkan pembatasan waktu lima tahun ini. Selain itubanyak lagi tindakan yang menyimpang dari ketentuan Undang-Undang Dasar. Misalnyadalam tahun 1960 Ir. Soekarno sebagai Prseiden membubarkan Dewan Perwakilan Rakyathasil Pemilihan Umum, padahal dalam penjelasan Undang-Undang Dasar 1945 secaraeksplisit ditentukan bahwa presiden tidak mempunyai wewenang untuk berbuat demikian.Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong yang mengganti Dewan Perwakilan Rakyat
pilihan ditonjolkan peranannya sebagai pembantu pemerintah sedangkan fungsi kontrol ditiadakan.  Lagipula pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat dijadikan menteri dan dengandemikian ditekankan fungsi mereka sebagai pembantu presiden disamping fungsi sebagaisebagai wakil rakyat. Hal terakhir ini mencerminkan telah ditinggalkannya doktrin triaspolitica.  Dalam rangka ini  harus  pula dilihat  beberapa  ketentuan  lain  yang  memberiwewenang kepada presiden sebagai badan eksekutif. Misalnya presiden diberi wewenanguntuk campur tangan di bidang yudikatif berdasarkan Undang-Undang No. 19/1964 dan dibidang legislatif berdasarkan Peraturan Tata Tertib Peraturan Presiden No. 14/1960 dalam halanggota Dewan Perwakilan Rakyat tidak mencapai mufakat.Hal tersebut kemudian menjadikan kaburnya batas-batas wewenang antara badaneksekutif dan legislatif, keduanya seolah-olah dirangkap oleh presiden. Akibatnya fungsi danperanan MPRS dan DPR-GR hilang. Apalagi pada waktu itu menteri-menteri diperbolehkanmenjabat sebagai ketua MPRS, DPR-GR, DPA dan MA.MPRS dan DPR-GR yang seharusnya menjadi lembaga perwakilan rakyat yangbertugas sebagai lembaga negara yang mengawasi jalannya pemerintahan pada akhirnyatunduk kepada kebijaksanaan-kebijaksanaan presiden.Demokrasi terpimpin ialah hypen pendek demokrasi yang tidak didasarkan atas pahamliberalisme, sosialisme-nasional, facisme, dan komunisme, tetapi suatu faham demokrasi yangdidasarkan  keinginan-keinginan  luhur  bangsa  Indonesia  seperti  yang  tercantum  dalampembukaan UUD 1945, menuju satu tujuan yaitu mencapai masyarakat adil dan makmur yangpenuh dengan kebahagiaan material dan spiritual sesuai dengan cita-cita Proklamasi 17Agustus 1945.Akan tetapi dalam prakteknya, apa yang dinamakan dengan demokrasi terpimpin yangmempunyai tujuan yang luhur ini tidak pernah dilaksanakan secara konsekuen. Sebaliknyasistem ini sangat jauh dan menyimpang dari arti yang sebenarnya. Dalam prakteknya yangmemimpin demokrasi ini bukan pancasila sebagaiman dicanangkan tetapi sang pemimpinnyasendiri. Akibatnya demokrasi yang dijalankan tidak lagi berdasarkan keinginan luhur bangsaIndonesia tetapi berdasarkan keinginan-keinginan atau ambisi-ambisi politik pemimpinnyasendiri.

LANJUTAN nya coming soon

DI BALIK PERANG IRAK


Rencana perang Irak, yang dilancarkan meski mendapat tentangan dari seluruh dunia, telah dipersiapkan setidaknya puluhan tahun lalu oleh para ahli strategi Israel. Dalam upayanya mewujudkan strategi pelemahan atau pemecahbelahan negara-negara Arab Timur Tengah, Israel memasukkan Mesir, Syiria, Iran dan Saudi Arabia dalam daftar sasaran berikutnya.
Saat tulisan ini disusun, Amerika Serikat (AS) telah memulai penggempuran terhadap Irak. Meskipun kenyataannya kebanyakan negara di seluruh dunia, bahkan sebagian besar sekutu AS sendiri, menentangnya, pemerintahan AS bersikukuh untuk meneruskan rencana serangannya. Ketika kita melihat apa yang ada di balik sikap keras kepala AS ini, maka Israel-lah satu-satunya yang bertanggung jawab atas pertumpahan darah dan penderitaan di Timur Tengah sejak awal abad kedua puluh. Kebijakan pemerintah Israel yang ditujukan untuk memecah-belah Irak memiliki akar sejarah yang panjang"
RENCANA ISRAEL MEMBAGI IRAK
Laporan berjudul "A Strategy for Israel in the Nineteen Eighties" (Strategi Israel di Tahun 1980-an), oleh majalah berbahasa Ibrani terbitan Departemen Informasi, Kivunim, bertujuan menjadikan seluruh kawasan Timur Tengah sebagai wilayah pemukiman Israel. Laporan tersebut, yang disusun oleh Oded Yinon - seorang wartawan Israel yang pernah dekat dengan kementrian luar negeri Israel - memaparkan skenario "pembagian Irak" sebagaimana berikut:
Irak, negeri kaya minyak yang menghadapi masalah perpecahan dalam negeri, dijamin bakal menjadi sasaran Israel. Mengakhiri riwayat Irak jauh lebih penting bagi kita ketimbang Syria" Sekali lagi, Irak pada intinya tidaklah berbeda dengan para tetangganya, meskipun sebagian besar penduduknya adalah penganut Syi'ah dan sebagian kecil Sunni yang menguasai pemerintahan. Enam puluh lima persen penduduknya tidak memiliki andil dalam politik di negara di mana sekelompok elit berjumlah 20 persen memegang kekuasaan. Selain itu terdapat minoritas Kurdi berjumlah besar di wilayah utara, dan jika bukan karena kekuatan rezim yang memerintah, angkatan bersenjatanya, dan pemasukannya dari minyak, masa depan Irak akan takkan berbeda dengan nasib Libanon di masa lalu" Dalam kasus Irak, pembagiannya menjadi sejumlah provinsi berdasarkan garis suku atau agama sebagaimana yang terjadi pada Syiria di masa kekhalifahan Utsmaniyyah adalah sesuatu yang mungkin. Jadi, tiga (atau lebih) negara kecil akan terbentuk di sekitar tiga kota utama: Basrah, Baghdad, dan Mosul; dan wilayah kaum Syi'ah di selatan akan terpisah dari wilayah kaum Sunni dan suku Kurdi di utara.
Kita hanya perlu sedikit mengingat kembali bagaimana skenario ini sebagiannya telah dilakukan pasca Perang Teluk 1991, di mana Irak secara efektif, kalau tidak secara resmi, dibagi menjadi tiga wilayah. Fakta bahwa rencana AS menduduki Irak, yang sedang dilakukan saat tulisan ini dibuat, dapat kembali mendorong terbaginya wilayah tersebut, merupakan sebuah ancaman nyata.
PERAN ISRAEL DALAM PERANG TELUK
Penerapan strategi Israel telah dilakukan sejak tahun 1990. Saddam Hussein menyerbu Kuwait dalam serangan mendadak pada tanggal 1 Agustus 1990, sehingga memunculkan krisis internasional. Israel menjadi pemimpin bagi kekuatan-kekuatan yang mendorong terjadinya krisis itu. Israel adalah pendukung tergigih sikap yang dianut AS menyusul serangan terhadap Kuwait. Kalangan Israel bahkan menganggap AS bersikap moderat, dan menginginkan adanya kebijakan yang lebih keras. Sedemikian jauhnya sehingga Presiden Israel, Chaim Herzog, menganjurkan agar AS menggunakan bom nuklir. Di sisi lain, lobi Israel di AS tengah berupaya untuk mendorong terjadinya serangan berskala luas atas Irak.
Seluruh keadaan ini mendorong terbentuknya pandangan di AS bahwa serangan terhadap Irak yang sedang dipertimbangkan, sesungguhnya dirancang demi kepentingan Israel. Komentator terkenal, Pat Buchanan, merangkum pandangan ini dalam kalimat " Hanya ada dua kelompok yang menabuh genderang perang di Timur Tengah - Kementrian Pertahanan Israel dan kelompok pendukungnya di Amerika Serikat." (http://www.infoplease.com/spot/patbuchanan1.html)
Israel juga telah memulai kampanye propaganda serius dalam masalah ini. Karena kampanye ini sebagian besar dilancarkan secara rahasia, maka Mossad pun terlibat pula. Mantan agen Mossad, Victor Ostrovsky, memberikan informasi penting mengenai hal ini. Menurutnya, Israel telah berkeinginan melancarkan peperangan bersama AS melawan Saddam jauh sebelum krisis Teluk. Bahkan Israel telah memulai melaksanakan rencana tersebut segera setelah berakhirnya perang Iran-Irak. Ostrovsky melaporkan bahwa departemen Perang Psikologi Mossad (LAP - LohAma Psicologit) melancarkan kampanye ampuh menggunakan teknik disinformasi. Kampanye ini ditujukan untuk menampilkan Saddam sebagai seorang diktator berdarah dan ancaman bagi perdamaian dunia. (Victor Ostrovsky, The Other Side of Deception, hlm. 252-254).
AGEN MOSSAD BERBICARA TENTANG PERANG TELUK
Ostrovsky menjelaskan bagaimana Mossad menggunakan para agen atau simpatisan di berbagai belahan dunia dalam kampanye ini dan bagaimana, misalnya, Amnesty International atau "para penolong Yahudi sukarelawan (sayanim)" di konggres AS dikerahkan. Di antara cara yang digunakan dalam kampanye tersebut adalah rudal yang diluncurkan ke sasaran-sasaran penduduk sipil di Iran selama perang Iran-Irak. Sebagaimana dijelaskan Ostrovsky, penggunaan rudal-rudal ini oleh Mossad di kemudian hari sebagai sarana propaganda sungguh janggal, sebab rudal-rudal tersebut ternyata telah diarahkan ke sasarannya oleh Mossad, dengan bantuan informasi dari satelit AS. Setelah mendukung Saddam selama perangnya melawan Iran, Israel kini tengah berupaya menampilkannya sebagai seorang monster. Ostrovsky menulis:
Para petinggi Mossad mengetahui bahwa jika mereka dapat menjadikan Saddam terlihat sebagai sosok sangat jahat dan sebagai ancaman bagi pasokan minyak Teluk, yang hingga saat itu ia telah menjadi pelindung pasokan tersebut, maka Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya takkan membiarkan Saddam begitu saja, tapi akan membuat perhitungan yang akan menghancurkan angkatan bersenjata dan kekuatan persenjataanya, khususnya jika mereka sampai yakin bahwa ini hanyalah kesempatan terakhir mereka sebelum Saddam menggunakan senjata nuklir. (Victor Ostrovsky, The Other Side of Deception, hlm. 254)
Israel sangat bersikukuh dalam masalah ini, dan dalam kaitannya dengan Amerika Serikat, pada tanggal 4 Agustus 1990, Menteri Luar Negeri Israel, David Levy, mengeluarkan ancaman menggunakan bahasa diplomatis kepada William Brown, duta besar AS untuk Israel, dengan mengatakan bahwa Israel "menginginkan AS akan memenuhi semua tujuan-tujuan yang ditetapkan Israel untuk mereka sendiri di awal krisis teluk," dengan kata lain AS hendaknya menyerang Irak. Menurut Levy, jika AS tidak melakukannya, Israel akan melancarkannya sendiri. (Andrew and Leslie Cockburn, Dangerous Liaison, hlm. 356.)
Akan sangat menguntungkan bagi Israel jika AS terlibat perang tanpa keterlibatan apa pun di pihak Israel: dan inilah yang benar-benar terjadi.
ISRAEL MEMAKSA AS BERPERANG
Akan tetapi, kalangan Israel terlibat secara aktif dalam perencanaan perang oleh AS. Sejumlah pejabat AS yang terlibat merancangOperation Desert Storm (Operasi Badai Gurun) menerima arahan taktis jitu dari kalangan Israel bahwa "cara terbaik melukai Saddam adalah dengan melancarkan serangan terhadap keluarganya."
Kampanye propaganda yang diilhami Mossad sebagaimana dilaporkan Ostrovsky membentuk dukungan publik yang diperlukan dalam Perang Teluk. Sekali lagi, para pembantu lokal Mossad-lah yang berperan menyulut api peperangan. Lembaga pelobi Hill and Knowlton, yang dikendalikan oleh Tom Lantos dari lobi Israel, mempersiapkan rancangan yang dramatis guna meyakinkan para anggota Konggres perihal perang melawan Saddam. Turan Yavuz, wartawan Turki terkenal, memaparkan kejadian tersebut:
9 Oktober 1990. Lembaga pelobi Hill and Knowlton mengadakan pertemuan di Konggress yang bertemakan "Kebiadaban Irak." Sejumlah "saksi mata" yang dihadirkan dalam acara itu oleh lembaga pelobi tersebut menyatakan bahwa tentara Irak membunuh bayi-bayi baru lahir di bangsal-bangsal rumah sakit. Seorang "saksi mata" memaparkan kekejaman itu dengan sangat rinci, dan mengatakan bahwa para prajurit Irak telah membunuh 300 bayi baru lahir di satu rumah sakit saja. Berita ini sungguh mengguncang para anggota Konggress tersebut. Ini menguntungkan bagi pihak Presiden Bush. Namun, belakangan diketahui bahwa saksi mata yang dihadirkan oleh lembaga pelobi Hill and Knowlton di hadapan Konggres ternyata adalah anak perempuan duta besar Kuwait untuk Washington. Kendatipun demikian, kisah yang dituturkan anak perempuan tersebut sudah cukup bagi para anggota Konggress untuk menjuluki Saddam sebagai "Hitler". (Turan Yavuz, ABD'nin Kürt Karti (The US' Kurdish Card), hlm. 307)
Hal ini mengarahkan pada satu kesimpulan saja: Israel berperan penting dalam kebijakan Amerika Serikat untuk melancarkan perang pertamanya terhadap Irak. Perang yang kedua tidaklah banyak berbeda.
ALIH-ALIH "PERANG TERHADAP TERORISME"
Berlawanan dengan keyakinan masyarakat luas, rencana untuk menyerang Irak dan menggulingkan rezim Saddam Hussein dengan kekuatan senjata telah dipersiapkan dan dicanangkan dalam agenda Washington sejak lama sebelum dilancarkannya "perang mewalan terror," yang mengemuka pasca peristiwa 11 September. Isyarat pertama adanya rencana ini mengemuka pada tahun 1997. Sekelompok ahli strategi pro-Israel di Washington mulai memunculkan skenario penyerangan atas Irak dengan memanfaatkan lembaga think-tank "konservatif baru", yang dinamakan PNAC, Project for The New American Century (Proyek bagi Abad Amerika Baru).
Sebuah artikel berjudul "Invading Iraq Not a New Idea for Bush Clique: 4 Years Before 9/11 Plan Was Set" (Penyerangan atas Irak Bukan Gagasan Baru bagi Kelompok Bush) yang ditulis William Bruch dan diterbitkan di the Philadelphia Daily News, memaparkan fakta berikut:
Namun kenyataannya, Rumsfeld, Wakil Presiden Dick Cheney, dan sekelompok kecil ideolog konservatif telah memulai wacana penyerangan Amerika atas Irak sejak 1997 – hampir empat tahun sebelum serangan 11 September dan tiga tahun sebelum Presiden Bush memegang pemerintahan.
Sekelompok pembuat kebijakan sayap kanan yang terdengar mengkhawatirkan, yang tidak begitu dikenal, yang disebut Proyek bagi Abad Amerika Baru, atau PNAC – yang berhubungan erat dengan Cheney, Rumsfeld, deputi tertinggi Rumsfeld, Paul Wolfowitz, dan saudara lelaki Bush, Jeb – bahkan mendesak presiden waktu itu, Clinton, untuk menyerbu Irak di bulan Januari 1998. (William Bunch, Philadelphia Daily News, 27 Jan. 2003)
MINYAKKAH YANG MENJADI TUJUAN SEBENARNYA?
Mengapa para anggota PNAC sangat bersikukuh untuk menggulingkan Saddam? Artikel yang sama melanjutkan:
Meskipun minyak melatarbelakangi pernyataan kebijakan PNAC terhadap Irak, namun tampaknya ini bukanlah pendorong utama. [Ian] Lustick, [seorang profesor ilmu politik Universitas Pennsylvania dan ahli Timur Tengah,] yang juga pengecam kebijakan Bush, mengatakan bahwa minyak dipandang oleh para pendukung perang terutama sebagai cara untuk membayar operasi militer yang sangat mahal.
"Saya dari Texas, dan setiap orang perminyakan yang saya kenal menentang tindakan militer terhadap Irak," kata Schmitt dari PNAC. "Pasar minyak tidak perlu diganggu."
Lustick yakin bahwa dalang tersembunyi yang sangat berpengaruh kuat kemungkinan adalah Israel. Ia mengatakan para pendukung perang dalam pemerintahan Bush yakin bahwa parade pasukan di Irak akan memaksa Palestina menerima rancangan perdamaian yang menguntungkan Israel"(William Bunch, "Invading Iraq not a new idea for Bush clique"Philadelphia Daily News, 27 Jan. 2003)
Jadi, inilah dorongan utama di balik rencana untuk menyerang Irak: membantu strategi Israel di Timur Tengah.
Fakta ini juga ditengarai oleh sejumlah ahli Timur Tengah lainnya. Misalnya Cengiz Çandar, ahli Timur Tengah asal Turki, memaparkan kekuatan sesungguhnya di balik rencana penyerangan atas Irak sebagaimana berikut:
"Siapakah yang mengarahkan serangan atas Irak? Wakil Presiden Dick Cheney, Menteri Pertahanan Rumsfeld, Penasehat Keamanan Dalam Negeri Condoleeza Rice. Mereka inilah para pendukung "tingkat tinggi" terhadap penyerbuan tersebut. Akan tetapi, selebihnya dari gunung es tersebut sungguh lebih besar dan lebih menarik. Terdapat sejumlah "lobi."
Yang terdepan di barisan lobi ini adalah tim Jewish Institute for Security Affairs (Lembaga Yahudi untuk Masalah Keamanan) JINSA, yang merupakan kelompok kanan Israel pro-Likud yang dikenal memiliki hubungan dekat dengan industri-industri senjata AS" Mereka memiliki hubungan erat dengan "lobi persenjataan," Lockheed, Northrop, General Dynamics dan industri militer Israel" Prinsip mendasar JINSA adalah bahwa keamanan AS dan Israel adalah tak terpisahkan. Dengan kata lalin, keduanya adalah sama.
Tujuan JINSA tidak terbatas pada merobohkan rezim Saddam di Irak, tetapi juga mendukung penggulingan rezim Saudi Arabia, Syria, Mesir dan Iran dengan logika "perang total", yang diikuti dengan "penegakan" demokrasi. …Dengan kata lalin, sejumlah Yahudi Amerika yang seirama dengan kelompok-kelompok paling ekstrim di Israel sekarang terdiri atas orang-orang yang mendukung perang di Washington. (Cengiz Çandar, "Iraq and the 'Friends of Turkey' American Hawks", Yeni Safak, 3 September 2002.)
PROYEK ISRAEL "PENGUASAAN DUNIA SECARA DIAM-DIAM"
Singkatnya, terdapat kalangan di Washington yang mendorong terjadinya perang yang awalnya dilancarkan terhadap Irak, dan setelah itu terhadap Saudi Arabia, Syria, Iran dan Mesir. Ciri mereka paling kentara adalah mereka berbaris di samping, dan bahkan sama dengan, "lobi Israel."
Tak menjadi soal betapa sering mereka berbicara tentang "kepentingan Amerika," orang-orang ini sebenarnya mendukung kepentingan Israel. Strategi melancarkan peperangan terhadap seluruh Timur Tengah sehingga menjadikan seluruh rakyat di kawasan tersebut bangkit melawan AS tak mungkin akan menguntungkan pihak AS. Penggunaan strategi seperti ini hanya mungkin dapat dilakukan jika AS tunduk pada Israel, melalui lobi Israel, yang luar biasa berpengaruhnya terhadap kebijakan luar negeri negara tersebut.
Dengan alasan ini, maka di belakang strategi yang mulai dijalankan pasca 11 September dan yang ditujukan untuk merubah peta seluruh dunia Islam, terdapat rencana rahasia Israel untuk "menguasai dunia." Sejak pendiriannya, Israel telah bercita-cita merubah peta Timur Tengah, menjadikannya mudah diatur sehingga tidak lagi menjadi ancaman baginya. Israel telah menggunakan pengaruhnya di AS untuk tujuan ini di tahun-tahun belakangan, dan memiliki andil besar dalam mengarahkan kebijakan Washington di Timur Tengah. Keadaan pasca 11 September memberi Israel kesempatan yang selama ini telah dicari-carinya. Para ideolog pro-Israel yang selama bertahun-tahun secara tidak benar telah menyatakan bahwa Islam sendirilah yang – dan bukan sejumlah kelompok radikal militan yang berbaju Islam – memunculkan ancaman terhadap Barat dan AS. Merekalah yang berusaha meyakinkan kebenaran gagasan keliru tentang "benturan antar peradaban," dan telah berupaya mempengaruhi AS agar memusuhi dunia Islam setelah peristiwa 11 September. Sudah sejak tahun 1995, Israel Shahak dari Universitas Hebrew, Jerusalem, menuliskan keinginan Perdana Menteri Rabin sebagai "gagasan perang melawan Islam yang dipimpin Israel." Nahum Barnea, penulis opini dari surat kabar Israel, Yediot Ahronot, menyatakan di tahun yang sama bahwa Israel tengah mengalami kemajuan "[untuk] menjadi pemimpin Barat dalam perang melawan musuh, yakni Islam." (Israel Shahak, "Downturn in Rabin's Popularity Has Several Causes", Washington Report on Middle East Affairs, Maret 1995.)
Semua yang telah terjadi di tahun-tahun berikutnya adalah bahwa Israel menjadikan niatannya semakin kentara. Iklim politik pasca 11 September memberikan peluang untuk mewujudkan niatan ini menjadi kenyataan. Dunia kini tengah menyaksikan tahap demi tahap menerapan kebijakan Israel dalam memecah-belah Irak, yang telah dirancang di Konggres Zionis Dunia pada tahun 1982.
SATU-SATUNYA JALAN MENUJU PERDAMAIAN DUNIA: PERSATUAN ISLAM
Keadaan di atas dapat dirangkum sebagai berikut: Tujuan Israel adalah untuk menata ulang kawasan Timur Tengah menurut kepentingan strategisnya sendiri. Untuk mencapai hal ini, untuk menguasai Timur Tengah, wilayah paling mudah bergejolak di dunia, Israel memerlukan sebuah "kekuatan dunia." Kekuatan ini adalah Amerika Serikat; dan Israel, dengan kekuatan pengaruhnya terhadap AS, tengah berupaya menggadaikan kebijakan luar negeri AS terhadap Timur Tengah. Meskipun Israel adalah sebuah negara kecil berpenduduk 4,5 juta jiwa, rencana yang disusun Israel dan para pendukungnya di Barat mengendalikan keseluruhan dunia.
Apa yang perlu dilakukan menghadapi kenyataan ini?
1) Kegiatan melobi perlu dilakukan dalam rangka menandingi pengaruh lobi Israel di Amerika Serikat guna membangun dialog antara AS dan dunia Islam, dan untuk mengajaknya mencari cara damai dalam memecahkan permasalahan Irak dan permasalahan serupa lainnya. Banyak kalangan AS menginginkan negeri mereka mengambil kebijakan Timur Tengah yang lebih adil. Banyak negarawan, ahli strategi, wartawan dan cendekiawan telah mengungkapkan hal ini, dan gerakan "perdamaian antar peradaban" harus digulirkan dengan bekerjasama dengan kalangan tersebut.
2) Pendekatan yang mengajak pemerintah AS kepada pemecahan masalah secara damai haruslah dibawa ke tingkat pemerintahan dan masyarakat sipil.
Bersamaan dengan ini semua, jalan keluar paling mendasar terletak pada sebuah proyek yang dapat menyelesaikan seluruh permasalahan antara dunia Islam dan Barat, dan dapat mengatasi perpecahan, penderitaan dan kemiskinan di dunia Islam dan sama sekali merubahnya, dan ini adalah Persatuan Islam.
Perkembangan terakhir telah menunjukkan bahwa seluruh dunia, tidak hanya wilayah-wilayah Islam, memerlukan sebuah "Persatuan Islam." Persatuan ini haruslah mampu meredam unsur-unsur radikal di Dunia Islam, dan membangun hubungan baik antar negara-negara Islam dan Barat, khususnya Amerika Serikat. Persatuan ini juga hendaknya membantu menemukan jalan keluar bagi induk dari seluruh permasalahan yang ada: perseteruan Arab-Israel. Hanya dengan penarikan diri Israel hingga batas wilayahnya sebelum tahun 1967, dan pengakuan bangsa Arab atas keberadaannya, akan ada perdamaian sesungguhnya di Timur Tengah. Dan umat Yahudi dan Muslim – yang keduanya keturunan Nabi Ibrahim dan beriman pada satu Tuhan saja – dapat hidup berdampingan di Tanah Suci, sebagaimana yang telah mereka tunjukkan di abad-abad yang lalu. Dengan demikian, Israel takkan lagi memerlukan strategi untuk mengganggu keamanan atau memecah-belah negara-negara Arab. Dan Israel takkan menghadapi balasan atas pendudukannya dalam bentuk kekerasan dan ketakutan terus-menerus terhadap upaya penghancuran terhadapnya. Lalu, keduanya, anak-anak Israel dan Irak (juga Palestina) dapat tumbuh dalam lingkungan yang damai dan aman. Inilah wilayah Timur Tengah yang seharusnya didambakan dan berusaha diwujudkan oleh setiap orang yang bijak.

MEWASPADAI DI BALIK KONFLIK AMBALAT


Seperti telah ramai diberitakan, saat ini tengah terjadi konflik sengit antara 
Indonesia dan Malaysia memperebutkan blok Ambalat dan East Ambalat di Laut 
Sulawesi. Konflik ini terjadi menyusul klaim Malaysia atas wilayah itu. 
Malaysia melalui perusahaan migasnya, Petronas, bahkan pada 16 Februari lalu 
telah memberikan konsesi blok kaya migas itu kepada Shell (perusahaan patungan 
Inggeris-Belanda). Nama lengkapnya, The Royal Dutch/ Shell Group. Menurut data 
Ditjen Migas Departemen energi dan Sumber Daya Mineral, kawasan ini memang 
mempunyai kandungan minyak yang sangat besar. Diperkirakan mencapai 700 juta 
hingga satu miliar barel, sementara kandungan gasnya diperkirakan lebih dari 40 
triliun kaki kubik (TCF). Klaim itu tentu ditolak mentah-mentah oleh pemerintah 
Indonesia yang merasa lebih dulu menguasai wilayah itu, apalagi sebelumnya 
Indonesia juga telah memberikan konsesi pengelolaan migas blok Ambalat kepada 
perusahaan Italia, ENI, serta Blok East Ambalat bagi perusahaan
Amerika Serikat (AS), Unocal. 

Konflik itu dikhawatirkan makin meruncing karena kedua belah pihak kini telah 
mengerahkan kekuatan angkatan bersenjatanya di kawasan sengketa. Bila tidak 
disikapi secara hati-hati, bukan tidak mungkin akan timbul perang terbuka 
diantara dua negeri muslim bertetangga.

Mewaspadai Konteks Global

Dalam konflik ini, hampir tidak ada pihak yang berupaya melihat bahwa ada 
konspirasi yang berupaya membenturkan Indonesia dan Malaysia dalam konflik 
abadi dan membuat negara-negara imperialis dapat melestarikan hegemoni dan 
penjajahannya, baik secara langsung maupun lewat Singapura. Negara kecil ini 
hanya kuat bila Indonesia dan Malaysia lemah akibat terus menerus berkelahi. 
Situasinya mirip dengan Timur Tengah, dimana antarnegeri muslim terus 
bertengkar memperebutkan wilayah dan daerah kaya migas, seperti antara Iran 
dengan Irak, Irak dengan Kuwait, antar beberapa negara Teluk, Suriah dengan 
Iran dan Lebanon, dan sebagainya. Memang hanya para konspirator yang akan 
untung besar, terlepas dari apakah Indonesia atau Malaysia yang mendapatkan hak 
atas kontrak bagi hasil (production sharing contract). 

Indikasi adanya konspirasi itu bica dibaca di koran terbitan Amerika Serikat, 
Los Angeles Times, edisi 4 Maret 2005, yang juga mengutip Wall Street Journal 
edisi sehari sebelumnya. Dikabarkan Chevron-Texaco, raksasa migas terbesar 
kedua di AS, sedang melirik Unocal (Union Oil Company of California). Ini kabar 
lama, namun jadi kian nyaring tahun ini karena laba para raksasa migas 
menggunung akibat melonjaknya harga minyak, sementara mereka mau menambah 
cadangan minyak dan gasnya. Pada Januari 2005 raksasa migas RRC, China National 
Offshore Oil Corporation (CNOOC), serta Royal Dutch/ Shell Group mendekati 
Unocal. Belum jelas siapa yang akan sukses mengakuisisi perusahaan migas 
terbesar kedelapan AS itu.

Chevron-Texaco adalah pemilik perusahaan tambang minyak terbesar di Indonesia, 
PT Caltex Pasific Indonesia, juga beberapa perusahaan yang berafiliasi dengan 
Caltex, baik di Indonesia, Singapura maupun negara-negara lain di Asia Pasifik 
dan AS. Konsesi Chevron-Texaco (Caltex) diperkirakan melebihi 70 persen dari 
total produksi minyak Indonesia. Salah satu konsekuensinya, pemerintah, 
parlemen, KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha), pers dan ulama perlu kian 
membuka mata mereka terhadap terjadinya monopoli dan oligopoli dalam 
penambangan minyak, jika Unocal jadi dibeli pemilik Caltex. Ironisnya, produksi 
Pertamina tidak sampai sepuluh persen total produksi nasional. Adapun CNOOC, 
sebagai pemilik saham Maxus diberitakan dalam pencemaran Teluk Jakarta dan 
kasus-kasus penyelewengan kontrak bagi hasil di penambangan minyak lepas pantai 
Jakarta. 

Jadi, di balik pengerahan pasukan militer Indonesia dan Malaysia, dan di balik 
perang diplomasi pemerintah Jakarta dan Kuala Lumpur, ada fakta Chevron-Texaco 
versus Shell. Sebenarnya, para raksasa migas AS -- tidak hanya Chevron-Texaco 
-- sudah lama menghadapi perusahaan Inggris-Belanda serta perusahaan Eropa 
lain. Ini terlihat dari sejarah jatuhnya tambang-tambang migas di Indonesia 
kepada berbagai perusahaan AS, baik di era penjajahan Belanda maupun sesudah 
mereka mendepak Belanda di era pemerintahan Soekarno, seperti saat perebutan 
Irian Barat dimana AS mendapat hadiah tambang emas Freeport. 

Ketika ada peristiwa PRRI dan Permesta, tambang minyak Chevron dan Texaco di 
Riau salah satu areal konsesi minyak mereka tidak diganggu oleh pemerintah, 
TNI, dan gerakan insurgensi. George Aditjondro (1999) dalam buku Tangan-tangan 
Berlumuran Minyak menyebut tahun 1957 Shell mulai didepak perusahaan AS. Di 
Malaysia Shell berkuasa sesuai sejarah imperialisme Inggris dan hadiah 
kemerdekaan Malaysia. Namun, itu hanya duel semu. Situasinya mirip dengan hadis 
Nabi Muhammad SAW bahwa musuh-musuh Islam akan memperebutkan kita bagaikan 
orang-orang berebut hidangan di atas meja. Mereka mungkin bertengkar, tapi bisa 
juga berdamai bila makanan dibagikan kepada semua pihak secara proporsional. 
Kesemuan itu juga terjadi saat terlihat ada kompetisi antarperusahaan migas AS.


Membangun Kesadaran

Sesungguhnya, pemilik perusahaan-perusahaan minyak dan gas itu adalah 
orang-orang yang memiliki tujuan hidup, ideologi, dan visi-misi yang sama, 
terutama bila dikaitkan dengan ambisi Yahudi menguasai dunia serta 
menghancurkan dan mencegah Islam kuat kembali. Sebagian saham Shell dipegang 
keluarga Rothschild, pendiri Bank of England, donatur Freemasonry dan gerakan 
penumbangan Khilafah Islam yang saat itu berpusat di Istambul, Turki. Mereka 
pula penyebab Palestina dicaplok Inggris yang belakangan diserahkan kepada 
Israel. Sementara itu, perusahaan-perusahaan migas AS, seperti Exxon dan Mobil 
Oil (belakangan merger menjadi Exxon-Mobil), Chevron dan Texaco (belakangan 
Chevron mengakusisi Texaco), dan sebagainya, dikuasai keluarga dan turunan John 
D Rockefeller. Kini, keluarga mereka memimpin pencegahan berdirinya kembali 
Khilafah Islam, institusi pemerintahan berbasis Sunnah Nabi, yang dulu 
ditumbangkan kapitalis Yahudi Inggris, Rothschild. 

Adapun Mustafa Kemal Attaturk hanya aktor lapangan. Kesamaan latar belakang dan 
ideologi itu yang memudahkan terbentuknya BP, gabungan perusahaan asal Inggris, 
British Petroleum, dengan perusahaan-perusahaan AS, Arco (Atlantic Richfield 
Company) dan Amoco. Apalagi, sejak dulu ada poros Anglo-Amerika (Inggris-AS) 
yang didasari kesamaan agama (kristen Protestan), kesamaan ras (Anglo-Saxon) 
dan kesamaan kepentingan dalam aspek gold (kekayaan ekonomi, termasuk tambang 
migas dan emas), gospel (penyebaran agama dan nilai-nilai kristen), serta glory 
(penguasaan dunia dan pencegahan berdirinya kembali Daulah Islam). Persaingan 
Chevron-Texaco versus Shell juga sama tidak jujurnya dengan persaingan antara 
AS dan Eropa dalam menghadapi persoalan Irak-Iran, serta reaktor nuklir Iran. 
Dalam perang Iran-Irak, Iran didukung Uni Soviet dan beberapa negara Eropa, 
sementara AS mendukung agen intelijennya, Saddam Hussein. Posisi berbeda 
diambil dalam penyerangan Irak tahun 2003. Begitupun dengan kasus
Iran.

Dapat pula dinyatakan bila Indonesia menyerahkan konsesi Blok Ambalat kepada 
ENI (dimiliki Italia), maka pemerintah Italia adalah pendukung kuat AS dalam 
memerangi umat Islam di Irak, Afghanistan dan sebagainya. Penyerahan Blok East 
Ambalat kepada Unocal (AS) juga sama: memodali penjajah memerangi kita dan 
saudara kita. Begitu pula jika Petronas (Malaysia) menyerahkannya kepada Shell: 
memodali Inggris dan Belanda menguasai kita. AS, Inggris, Belanda dan sekutu 
protestan mereka sama mendukung Israel. Saat AS mengembargo TNI, Inggris 
mengikutinya. Bahkan, mereka bekerja sama mengoperasikan satelit mata-mata 
Echelon yang bisa menyadap semua alat telekomunikasi. 

Berbagai kesamaan itu yang memungkinkan Petronas bekerja sama dengan perusahaan 
AS, Exxon-Mobil dan Chevron-Texaco, menambang minyak dan memasang pipa di Chad 
dan Kamerun, Afrika yang diresmikan tanggal 29 Juli 2003 (lihat arsip berita di&nbrp;
situs Petronas). Konflik hanya memperbesar keuntungan dan kekuasaan Barat. 
Hampir semua senjata Indonesia buatan AS, sementara Malaysia didukung Inggris. 
Akan ada alasan peningkatan belanja militer yang ujung-ujungnya menggemukkan 
industri militer AS dan Inggris. 

Padahal, AS sudah diuntungkan keputusan Pengadilan AS yang mewajibkan Indonesia 
(Pertamina) membayar 305 juta dolar kepada Karaha Bodas Company untuk suatu 
klaim yang tidak ada wujudnya, tidak pernah dikerjakannya. 
Perusahaan-perusahaan minyak AS dan Eropa kian untung dengan kenaikan harga BBM 
karena sebentar lagi mereka dibolehkan membuka SPBU di sini. Mereka menghendaki 
harga BBM Indonesia tidak berbeda dengan harga internasional agar laba mereka 
tidak berkurang karena selisih kurs. 

Sebagai renungan, hingga akhir 2004 Chevron-Texaco dilaporkan memiliki cadangan 
minyak sebanyak 11,25 miliar barrel. Bayangkan pula, ketika pendapatannya 
melonjak 28 persen dari 121,3 miliar dolar AS tahun 2003 menjadi 155,3 miliar 
dolarAS tahun lalu, maka laba bersih mereka naik 85 persen dari 7,2 miliar 
dolar AS tahun 2003 menjadi 13,3 miliar dolar (Los Angeles Times, ibid). Adapun 
laba Unocal naik 88 persen dari 643 juta dolar AS tahun 2003 menjadi 1,21 
miliar dolar AS tahun 2004. Kini, semua angka itu akan terus melambung karena 
kenaikan harga BBM domestik, reduksi pajak bagi mereka, pemberian konsesi 
tambang bernilai ribuan triliun rupiah, dan rakyat Indonesia, Malaysia dan 
lain-lain tetap saja tidak menjadi tuan di rumahnya sendiri. RI dan Malaysia 
harus sadar bahwa banyak pihak menghendaki mereka tetap berkelahi setelah 
sebelumnya gagal meraih keluhuran kemanusiaan dan persaudaraan dalam persoalan 
TKI. Wajar, berdiplomasi memakai alat pertahanan (gunboat diplomacy). 


Mencari Solusi

Dalam menyikapi konflik ini, yang pertama kali harus diingat adalah bahwa 
Malaysia dan Indonesia adalah sama-sama negeri Islam dengan penduduk mayoritas 
muslim. Sebagai sesama muslim, keduanya tentu adalah bersaudara, meski hidup 
dalam wilayah berbeda. Persaudaraan Islam tidaklah mengenal batas teritorial. 

Sesungguhnya orang-orang mu'min adalah bersaudara karena itu damaikanlah (Q.S. 
al-Hujurat: 10)


Di masa kejayaan Islam, umat Islam di seluruh dunia hidup dalam naungan daulah 
khilafah. Tapi pada tahun 1924, payung dunia Islam itu runtuh dengan hancurnya 
Khilafah Utsmani yang berpusat di Turki. Setelah itu, umat yang dulu bersatu 
terpecah belah menjadi lebih dari 50 negara, termasuk di antaranya Indonesia 
dan Malaysia dengan beragam konflik yang mewarnai, diantaranya perebutan 
wilayah sebagaimana kini tengah terjadi. Dari sini bisa ditarik kesimpulan, 
bahwa sesungguhnya akar persoalan di balik krisis Ambalat bukanlah masalah 
perbatasan, melainkan karena adanya doktrin nation state yang melahirkan negara 
bangsa. Doktrin ini pula, bersama dengan paham nasionalisme, yang digunakan 
oleh penjajah untuk mengerat-ngerat negeri-negeri muslim dan mempertahankan 
perpecahan di seluruh dunia Islam. 

Jika konflik ini tidak dapat diselesaikan secara arif dan rasional, akan dengan 
mudah memicu perang terbuka antara Malaysia dengan Indonesia, sebagaimana yang 
dituntut oleh sebagian kalangan yang akhir-akhir ini kian nyaring terdengar di 
Indonesia. Bila itu benar-benar terjadi, kedua negara pasti akan mengalami 
kerugian besar. Sementara, yang diuntungkan justru pihak lain. Mengapa? 
Pertama, perang pasti akan menguras sumberdaya kedua negara (dana, manusia, 
waktu dan tenaga). Sementara, secara ekonomi, karena konsesi eksploitasi migas 
telah diberikan oleh pemerintah Indonesia dan Malaysia kepada perusahaan minyak 
asing, maka siapa pun yang kelak akan menguasai blok itu, perusahaan dan negara 
tempat perusahaan itu berasal itulah yang diuntungkan. Kedua, secara politik, 
jika masing-masing pihak bersikukuh dengan klaimnya, maka bisa jadi kawasan 
tersebut akan diinternasionalisasi oleh badan dunia, sebagaimana yang pernah 
hendak dilakukan terhadap al-Quds. Jika demikian, maka baik
Indonesia maupun Malaysia akan sama-sama rugi. Sementara, yang akan 
diuntungkan lagi-lagi tentu negara-negara yang mempunyai pengaruh paling kuat 
di badan-badan dunia, baik di Mahkamah Internasional, PBB, maupun yang lain. 
Ketiga, dari aspek pertahanan dan keamanan, jika konflik bersenjata antara 
Indonesia dan Malaysia itu sampai pecah, pasti akan menjadi justifikasi bagi 
pihak asing, khususnya negara-negara penjajah tadi agar bisa melakukan 
intervensi di kawasan tersebut. Maka persoalan akan menjadi semakin rumit, dan 
bisa dipastikan konflik tersebut akan berlarut-larut. Ini seperti yang dialami 
oleh Suriah dan Lebanon, atau India dan Pakistan. 

Oleh karena itu, penyelesaikan konflik Ambalat harus dikembalikan kepada akar 
masalah, yakni karena hilangnya persatuan dan kesatuan umat Islam di bawah 
naungan daulah khilafah. Dan dari melihat duduk persoalan yang sebenarnya 
sebagaimana dijelaskan di atas, krisis Ambalat tersebut semestinya harus 
diselesaikan dengan cara damai, bukan melalui konfrontasi, apalagi perang yang 
akan merusak persaudaraan Islam. Maka, penyelesaian melalui jalur diplomasi 
inilah yang paling baik, yakni dengan cara mengembalikan penguasaan wilayah itu 
kepada pihak pertama yang lebih dulu menguasai wilayah itu, yaitu Indonesia. 
Prinsip ini ditegaskan Rasulullah saw dalam hadits: 

Mina adalah hak bagi siapa saja yang terlebih dahulu sampai. (H.R. Hakim, Ibn 
Huzaimah, Ibn Majah, at-Tirmidzi, dan al-Baihaqi)

Apalagi berdasar bukti yang ada sesuai dengan hukum kelautan, secara 
historis wilayah Ambalat sebelumnya merupakan bagian dari wilayah kesultanan 
Balungan, yang kini menjadi salah satu kabupaten di Kaltim. Dengan demikian, 
Indonesialah yang lebih berhak terhadap wilayah tersebut. Artinya, pemerintah 
Indonesia harus bisa membuktikan kepada pemerintah Malaysia, bahwa Indonesialah 
yang lebih berhak atas wilayah tersebut, baik dari aspek kesejarahan maupun 
dokumen hukum kelautan. Sementara pihak Malaysia semestinya berbesar hati, 
bahwa klaim mereka atas blok Ambalat itu sama sekali tidak didukung oleh bukti 
yang kuat, termasuk bukti sejarah. Sebagai sesama negeri muslim, pemerintah 
kedua negara harus menyadari bahwa Islam sama sekali melarang konfrontasi, 
apalagi perang terbuka. Karena itu, segala bentuk konfrontasi harus 
dihindari. 

Meski demikian, semestinya pemerintah Indonesia tidak memberikan konsesi 
pengelolaan blok kaya migas itu kepada perusahaan asing dan swasta. Dalam 
pandangan syariah, migas merupakan milik rakyat, bukan milik negara. Karenanya, 
negara tidak berhak memberikan konsesi apapun kepada pihak swasta. Maka, 
tindakan pemerintah Indonesia memberikan konsesi eksploitasa migas blok 
Ambalat kepada ENI dan Unocal, atau tindakan pemerintah Malaysia memberikan 
konsesi kepada Shell melanggar prinsip kepemilikan rakyat. Apalagi 
kenyataannya, perusahaan yang mendapatkan konsesi itu adalah perusahaan yang 
notabene berasal dari Inggris dan Amerika yang dikenal sebagai negara penjajah 
modern. 

Akhirnya, persoalan ini semakin menguatkan keyakinan kita, bahwa akar 
masalahnya adalah karena negeri-negeri muslim yang semula bersatu di bawah 
naungan bendera Lailaha Illa-Llah Muhammadurrasulullah itu kini telah terpecah 
belah dengan egonya masing-masing. Diyakini bahwa persoalan semacam ini akan 
terus berlangsung hingga dunia Islam bersatu kembali di bawah naungan daulah 
Khilafah. Oleh karena itu, keberadaan daulah khilafah bukan saja wajib, tapi 
juga perlu untuk menjaga persatuan dan kesatuan negeri-negeri kaum muslim. Jika 
tidak, umat Islam akan terus-menerus disibukkan dengan riak-riak seperti ini 
yang membuatnya semakin lemah dan semakin lemah. Sampai kapan? 

Karakter politik indonesia periode 1959-1965


DPR hasil pemilu berdasarkan uud 1945,, jumlah anggota sebanyak 262 kembali aktif setelah megagkat sumpah. dalam dpr terdapat 19 fraksi,, yang di didominasi pi, masyumi, u dan pki. penpres no 3 tahun 1960, presiden membubarkan DPR, karena DPR hanya menyetujui 36 milyar rupiah.. dari 44 miliar yang diajukan presiden. Sehubungan dengaN itu presiden mengeluarkan penpres no.4 yang mengatur susunan DPR-GR.

DPR GR beranggotakan 283 orang yang keseluruhannya diangkat oleh presiden dengan keppres no.156 tahun 1960. adapun salah satu kewajiban pimpinan dpr gr adalah memberikan laporan kepada presiden pada waktu-waktu tertentu, yang mana menyimpang dari pasal 5, 20, 21, UUD 1945.
selama 1960-1965, DPR-GR menghasilkan 117 UU dan 26 usul menyatakan pendapat. Normal 0 false false false MicrosoftInternetExplorer4
Menurut PENJELASAN ATAS PENETAPAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NO. 5 TAHUN 1960 tentang DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH GOTONG-ROYONGDAN SEKRETARIAT DAERAH
Pasal 6
Dalam menyusun DPRD-GR maka instansi atasan memperhatikan Pengumuman Presiden tentang DPR-GR tertanggal 17 Maret 1960 dan Penjelasan atas Penetapan PresidenNo. 4 tahun 1960, yang menerangkan bahwa DPR-GR terdiri atas wakil-wakil dari :
A.golongan-golongan politik, yang terbagi atas anggota-anggota1.Partai Nasional Indonesia(PNI)2.Partai Nahdlatul Ulama(NU)3.Partai Komunis Indonesia(PKI)4.Partai Kristen Indonesia(Parkindo)5.Partai Katolik6.Partai Syarikat Islam Indonesia(PSII)7.Partai Persatuan Tarbiyah Islamiyah(Perti)8.Partai Murba dan9.Partai Indonesia(Partindo)(Partai-partai tersebut No. 1, 8 dan 9 kemudian menjadi golongan Nasionalis,No. 2, 6 dan 7 golongan Islam, No. 4 dan 5 golongan Kristen dan 3 golongan KomunisB.golongan-golongan karya, yang terbagi atas anggota dari golongan :1.Angkatan Bersenjata, yang terdiri dari : a.Angkatan Darat,b.Angkatan Laut,c.Angkatan Udara,d.Kepolisian Negara dane.O.K.D./O.P.R.;2.Veteran;(golongan No. 1 dan 2 kemudian menjadi sub golongan AngkatanBersenjata);3.Alim Ulama, yang terdiri daria.Islam,b.Kristen,c.Katolik dand.Hindu Bali;(golongan no. 3 kemudian menjadi sub golongan Kerokhanian);4.Cendekiawan/Pendidik;5.Pemuda;6.Wanita;7.Angkatan '45;8.Seniman dan9.Wartawan;(golongan-golongan No. 4 s/d 9 kemudian menjadi sub golonganPembangun Spirituil);10.Tani;11.Buruh;12.Kooperasi dan13.Pengusaha Nasional;(golongan No. 10 s/d 13 kemudian menjadi sub golongan PembangunanMateriil).Dengan sendirinya susunan tersebut diatas tidak mengikat dalam penyusunanDewan-Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Gotong Royong dan dapat diubahdengan mengingat keadaan masing-masing daerah, misalnya :
A.Golongan politik dapat : I.dikurangi dengan partai-partai yang tidak mempunyai wakildalam DPRD dahulu atau tidak terdapat didaerah itu; II.ditambah dengan partai-partai lain yang dianggap perlu(karena banyak pengikutnya, pengaruhnya dan sebagainya didaerah itu), asal bukan partai yang dibubarkan/ terlarangsebagaimana dimaksudkan pada pasal 4;
B.Golongan karya dapat : I.dikurangi dengan golongan-golongan yang tidak terdapat atautidak besar jumlahnya/pengaruhnya didaerah itu; II.ditambah dengan golongan-golongan lain yang besar jumlahnya/pengaruhnya didaerah itu, asal bukan organisasiyang dibubarkan/terlarang sebagaimana dimaksudkan pada pasal 4. Dalam hal ini Kepala Daerah dapat minta pertimbangan partai/organisasi yang bersangkutan.